Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 November 2009

Cicak vs Buaya; Cermin Kebobrokan Birokrasi di Indonesia

Mengenai jalan ceritanya bagaimana cicak dan buaya bisa saling bertengkar saya rasa tak perlu dijelaskan lagi karena hampir semua rakyat Indonesia mengetahui dan bahkan sudah menjadi rahasia umum. Memalukan memang, dua lembaga yang sama-sama menjunjung tinggi hukum justru berseteru dan merasa dirinya paling benar. Mulanya saya pikir kasus ini tidak akan merambat ke masalah yang begitue serius, tetapi kenyataannya dalam kasus ini juga menyereh Menteri Keuangan yakni Sri Mulyani dan Wakil Presiden kita, Prof.Dr. Boediono. Meskipun begitu tentu saja asas praduga tak bersalah masih berlaku selama kedua pejabat penting negara tersebut belum dikatakan bersalah oleh pengadilan. Hal yang membuat saya geli, kok bisa-bisanya sebuah kebijakan negara diatur dan dikendalikan oleh pengusaha berduit. Dan si pengusaha berduit itu pastilah sedang tertawa terbahak-bahak melihat kepilonan para pemimpin kita. Yah memang kita akui bahwa gaji murni pejabat pemerintah tak seberapa, jika mereka hanya mengandalkan gaji mana bisa mereka membeli mobil mewah dan sederet tuntutan gengsi zaman globalisasi. Dan keserakahan telah membutakan segalanya. Dana talangan Bank Century yang sekarang telah berubah namanya menjadi Bank Mutiara sekitar 6,7 Trilyun itu tentu saja ditinjau oleh berbagai pihak sangat besar dan irrasional. Memangnya berapa jumlah nasabah bank tersebut? Terkenal aja nggak, lagi pula kalau hanya suntikan dana biasanya tidak lebih dari 10% modal. Dan yang menjadi masalah yakni kemana larinya uang triliyunan rupiah  milik rakyat  Indonesia.  Kita sebagai rakyat  jangan hanya tau berapa hutang kita ke luar negeri aja, tetapi juga yang patut dipertanyakan adalah dikemanakan uang yang kita pinjam dari luar negeri itu. Kenyataannya, masih banyak orang miskin dan gelandangan yang terlantar di luar sana. Mafia peradilan, permainan para birokrat sepertinya sudah menjadi hal biasa bagi negri ini. Itulah kenapa Allah membukakkan semuanya lewat ketua MK yang mengizinkan percakapan Anggodo yang disadap KPK itu diperdengarkan di pengadilan.(salut deh buat ketua MK, padahal resikonya gede banget tuh! Mungkin sudah saatnya Negeri ini bebas dari tikus-tikus yang rakus akan uang rakyat dan ini adalah sebuah pekerjaan rumah besar bagi SBY. Berantas KKN tanpa pandang bulu demi kemajuan Negara Indonesia!

Kamis, 11 Juni 2009

Siapakah Presiden 2009-2014??

Judul diatas cukup merepresentasikan keadaan politik akhir-akhir ini yang semakin memanas. Masing-masing calon presiden dan wakil presidennya sibuk mengatur strategi untuk meraih dukungan rakyat. Mereka tak peduli dengan cara apapun yang dipakainya asalkan bisa menang. Namun sayang kebanyakan jargon-jargon yang mereka pakai itu hanya sekedar untuk menarik perhatian rakyat semata. Seperti tema mengenai kampanye yang mereka usung, hampir semuanya mengusung tema perubahan ekonomi. Contohnya banyak yang bagi mereka mengakui tema kampanye mengusung ekonomi kerakyatan, kalo benar mereka mengusung tema seperti itu dan berpihak pada rakyat coba tanyakan,”berapa ratus unit usaha kecil menengah baik koperasi maupun industri kecil yang telah mereka bina? Dan apa hasilnya dari binaan mereka tersebut?” Kalo para elit politik itu mengelak dengan berbicara,”yah nanti kita akan realisasikan kalau kami sudah menjadi presiden dan wapres”. Sama saja hal tersebut bohong, kalau niat mereka ingin mengabdi pada Negara tak perlulah harus menjadi presiden dulu. Banyak diantara mereka itu yang punya duit banyak, jadi kenapa tidak dari dulu mereka misalnya memberikan pinjaman dan didikan kepada para pengusaha usaha kecil dan kerakyatan itu. Kenapa baru sekarang dibicarakan? Kemana saja mereka dari dulu? Saya juga tidak tahu tanyakan saja pada mereka. Juga tentang ekonomi neo-liberalisme yang akhir-akhir ini semakin menyudutkan salah satu pasangan capres-cawapres, pesan saya singkat, padat dan jelas. “ jangan sampai anda jual lagi aset-aset berharga milik kita(seperti Indosat) kepada pihak luar sekalipun keadaan terdesak kecuali jika memang perusahaan tersebut amat sangat merugikan Negara dan tidak mungkin lagi mengalami pertumbuhan. Karena bangsa yang menjual harta simpanannya adalah bangsa yang tidak pernah berpikir.”
Intinya, semoga bangsa Indonesia ini mendapatkan pemimpin yang adil, jujur dan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik menuju ke arah pintu gerbang yang setaraf dengan Negara-negara maju lainnya. Dan pesan untuk seluruh rakyat Indonesia mari kita berjuang lanjutkan cita-cita para pahlawan kita. Percuma kita mendapatkan pemimpin yang paling baik pun kalau rakyatnya masih begini-begini saja, seperti ketika upacara bendera senin pagi. Meskipun pemimpin upacaranya tegas, berwibawa dan cakap tetapi kalau semua peserta upacara kerjaannya hanya mengobrol dan ribut maka kehidmatan dalam upacara tidak akan pernah didapatkan. Jadi, berjuanglah untuk Indonesia yang lebih baik! Dan tunjukan pada dunia (terutama Malaysia) bahwa mereka tidak pantas menginjak-injak harga diri bangsa kita. Juga tak lupa, perjuangkanlah AMBALAT sampai titik darah penghabisan!!!

Rabu, 06 Mei 2009

Kepada Siapa Rakyat Harus Percaya???


Ironis, itulah kata yang mampu mewakili segenap peristiwa yang terjadi tempo hari. Ketua KPK yakni Antasari Azhar yang selama ini kita kenal sebagai pejabat negara yang seharusnya paling bersih (bahkan harusnya lebih bersih dari seorang presiden) justru tersangkut kasus kriminal heboh pembunuhan direktur utama PT. Rajawali Banjaran, Nasrudin. Kita tak tahu seberapa bobrokkah pemerintahan birokrasi sekarang? Dimana moral bangsa ini digadaikan? Saya sendiri tak tau. Tapi sebagai warga negara yang taat pada hukum pastinya kita masih memegang keyakinan tentang asa praduga tak bersalah, sebelum orang tersebut dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Bisa jadi juga ini adalah permainan politik? Permainan politik untuk menjatuhkan nama baik seseorang (bisa saja) karena menurut saya sangat tidak realistis kalau Antasari Azhar dalang dibalik penembakan hanya karena seorang wanita. Mungkin saja ada intrik yang tidak kita tau apa yang sebenarnya terjadi (persoalan yang sangat besar yang tidak boleh diketahui orang banyak). Jadi jangan salahkan rakyat kalau akhirnya rakyat sudah muak dengan drama yang terjadi dalam pemerintahan. Sudah cukup rakyat ini kalian bodohi, buka mata kalian para pemimpin bangsa. Kita tidak butuh dengan janji-janji kalian, kita tidak butuh omongan-omongan kosong kalian. Kita butuh realisasi, kita butuh bukti. Untuk apa kalian bergelar Profesor sekalipun kalau tingkah laku kalian jauh dari kejujuran. Untuk apa kalian jejalkan fisika,matematika, kimia dan segudang pelajaran lain pada generasi kalian kalau akhirnya moral mereka nol besar? Moral, ya itulah kunci dari seorang pemimpin. Seorang pemimpin tidak harus sepintar Newton ataupun sehebat Einstein asalkan bersikap jujur dan tidak serakah, itu saja cukup. Mencari orang yang jujur lebih sulit daripada mencari lulusan-lulusan sarjana. Dan dari peristiwa ini mudah-mudahan para pemimpin kita tetap dapat memegang amanah rakyat apalagi untuk tidak tergoda oleh takhta, harta dan wanita. Semoga Indonesia dapat meraih masa depan yang lebih cerah.

Jumat, 10 April 2009

Siapa pemimpin yang siap kalah?

Metode perhitungan cepat atau Quick Count telah diumumkan. Bahkan di hari H pemilu 9 April kemarin banyak lembaga survey yang dengan begitu cepatnya menyimpulkan kesepuluh partai yang menempati posisi atas. Tentu saja perhitungan tersebut bukan tanpa alasan karena yang terlibat dalam lembaga-lembaga survey seperti itu pastilah orang-orang yang tinggi ilmunya jadi mana mungkin mereka berani mempublikasikan data yang diragukan keakuratannya. Namun sayang dibalik semua itu, banyak parpol yang tidak menerima dengan legowo hasil yang telah di dapat. Banyak diantaranya yang berbicara,”Hasil Quick Count itu masih belum akurat, jadi hasil tersebut tidak bisa dipercaya”. Tapi dia sendiri kok sewot dengan mengatakan banyak kecurangan-kecurangan yang terjadi sehingga partainya merasa dirugikan. Pemimpin macam apa itu? Tidak siap menerima kekalahan. Apakah dia baru akan setuju kalau partainya saja yang memenangkan pemilu? Apa dia akan memaksakan kehendaknya sementara rakyat tidak memilihnya? Itulah pemimpin yang BODOH alias pemimpin yang tidak tau diri. Kekurangan-kekurangan dalam pemilu itu wajar karena tidak ada suatu pelaksanaan yang sempurna di dunia ini seberapa hebat pun perencanaannya. Sadarkah dia bahwa pemimpin seperti itu adalah pemimpin yang tidak beriman dan tidak mempercayai yang namanya takdir. Lupakah dia bahwa hasil akhir itu ada di tangan-Nya? Jujur saya sangat emosi ketika menyaksikan tayangan di televisi mempertontonkan tingkah laku seorang tokoh parpol yang tidak beretika. Padahal dia parpol kecil dan menurut hasil quick count parpolnya tidak masuk ranking sepuluh besar. Marah pada KPU, mungkin itu sah-sah saja asalkan tidak berlebihan. Berhentilah untuk bertingkah laku seperti anak kecil kalau memang Anda pikir Anda sudah dewasa. Kekerasan bukan penyelesaian yang baik. Pesta ini adalah pesta demokrasi bukan tragedi berdarah. Saya berkata seperti ini bukan karena saya pendukung salah satu parpol karena pada kenyataannya saya seorang Non Aliance Movement. Prediksi saya, pada akhir nanti mungkin akan terjadi kerusuhan-kerusuhan yang disebabkan oleh partai-partai yang berambisi dan tidak memiliki suara yang cukup memuaskan termasuk juga partai-partai kecil yang terancam bubar karena tidak mendapatkan suara lebih dari atau sama dengan 2,5 %. Tak lupa juga saya mengacungkan kedua jempol saya untuk pak JK karena telah secara legowo menerima hasil yang ditampilkan oleh banyak lembaga survey. Ingat jangan sampai kita dimanfaatkan oleh parpol-parpol busuk yang hanya ingin menang sendiri untuk direkrut agar melakukan kerusuhan-kerusuhan karena toh kita tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa.